BANJARNEGARA – Akses pendidikan tinggi di Kabupaten Banjarnegara berpeluang semakin terbuka lebar. Melalui Program Gerakan Nusantara (Genusa), Universitas Islam An Nur Lampung berencana membidani lahirnya Institut Agama Islam Banjarnegara dalam waktu dekat.

Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Rektor Universitas Islam An Nur Lampung, Prof Dr Andi Warsino, saat kegiatan silaturahmi dan sosialisasi yang digelar di Kampus Putri Ponpes Darul Mukhlasin, Semampir, Sabtu (28/3/2026). Acara tersebut dihadiri puluhan calon dosen dan mahasiswa.

Menurut Prof Andi, pihaknya di bawah naungan An Nur Internasional Group siap menghadirkan kampus baru dengan sistem pendidikan yang fleksibel serta biaya yang sangat terjangkau.

“Kita rencanakan membuka empat jurusan, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan Hukum Keluarga Islam (HKI). Sistemnya hybrid, daring dan luring, dengan biaya yang sangat terjangkau,” jelasnya.

Ia memaparkan, total biaya pendidikan pun relatif rendah dibandingkan kampus pada umumnya. Untuk jenjang S1 diperkirakan sekitar Rp10 juta, S2 Rp13 juta, dan S3 sekitar Rp36 juta hingga lulus. Meski demikian, kualitas pembelajaran tetap dijaga dengan ketat.

“Kehadiran minimal tiap semester 12 kali pertemuan. Semua tahapan harus dijalani, baik tes maupun subtes, secara daring maupun luring. Tanpa itu, mahasiswa tidak bisa lulus. Untuk ASN, tidak perlu khawatir karena legalitas dan pengakuan ijazah kami pastikan sesuai ketentuan BKN,” tegasnya.

Pimpinan Ponpes Darul Mukhlasin, Puji Raharjo, menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai kehadiran Institut Agama Islam Banjarnegara menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.

Menurutnya, Banjarnegara membutuhkan perguruan tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta memiliki biaya yang terjangkau, mengingat masih tingginya angka kemiskinan ekstrem.

“Kami berharap ini segera terwujud agar iklim akademik di Banjarnegara semakin berkembang. Potensi SDM sebenarnya sangat baik, hanya saja kesempatan dan ekosistem akademiknya belum terbangun maksimal,” ujarnya.

Antusiasme juga datang dari peserta sosialisasi. Indra Purnama, pegiat literasi dari Rumah Baca Purnama, mengaku optimistis program ini dapat menjadi solusi atas keterbatasan akses pendidikan tinggi di daerah.

“Ini seperti gayung bersambut. Pendidikan tinggi yang terjangkau bisa menjadi salah satu solusi persoalan pendidikan di Banjarnegara,” ungkapnya.

Jika terealisasi, kehadiran Institut Agama Islam Banjarnegara diharapkan tidak hanya membuka peluang pendidikan yang lebih luas, tetapi juga mendorong peningkatan indeks pembangunan manusia serta menciptakan generasi unggul di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *