BANJARNEGARA – Setiap 10 Ramadan menjadi momen istimewa bagi kaum Syarikat Islam (SI). Pada bulan suci inilah, tokoh panutan mereka, HOS Tjokroaminoto, wafat pada tahun 1934.
Untuk mengenang guru bangsa tersebut, kaum SI Banjarnegara kembali menggelar Haul Akbar pada Sabtu (28/2/2026). Peringatan diawali dengan ziarah makam para tokoh SI secara serentak di berbagai kecamatan.
Di makam Pacean, Pungkuran, Gayam, misalnya, Pengurus DPC SI Banjarnegara bersama kader menziarahi makam Oten Pardikin Partoadiwjoyo, Ketua Partai Syarikat Islam Indonesia Kabupaten Banjarnegara era 1930-an. Pada nisan yang tercatat wafat 28 Februari 1964 itu terukir nama Hadji Umar Said Partoadiwjoyo, nama yang mengingatkan pada sosok Tjokroaminoto yang dikenal dekat dengan Banjarnegara.
Seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) SI di kecamatan juga melaksanakan ziarah di wilayah masing-masing sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.
Meneladani Trilogi SI
Ketua DPC SI Banjarnegara, Musobihin, menegaskan bahwa haul bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat ideologis bagi kader SI.
“Kaum SI harus terinspirasi oleh gagasan kebangsaan beliau dan berpegang pada Reglemen atau Panduan Umat Islam yang beliau susun. Jalankan Trilogi SI: semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, dan sepandai-pandai siasat,” ujarnya.
Sore harinya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan dan pengajian akbar di MI Cokroaminoto 2 Majalengka, Kecamatan Bawang.
Jangan Terjebak Glorifikasi Masa Lalu
Dalam sarasehan tersebut, sejarawan sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Heni Purwono, membedah kedekatan Tjokroaminoto dengan Banjarnegara.
Ia menyebut Banjarnegara sebagai basis SI yang istimewa. Cabang SI di daerah ini termasuk yang pertama berdiri dan diresmikan langsung oleh Tjokroaminoto pada 28 Desember 1913. Pada Kongres SI 1917 di Batavia, anggota SI Banjarnegara tercatat lebih dari 11 ribu orang di bawah kepemimpinan Haji Ihsan. Di Purwareja Klampok, cabang SI yang dipimpin Raden Soemandar bahkan memiliki sekitar 6 ribu anggota.
Namun, Heni mengingatkan agar kaum SI tidak larut dalam romantisme sejarah.
“SI memiliki sejarah gemilang, tetapi jangan hanya diglorifikasi. Warisan itu harus dikonversi menjadi kekuatan gerakan hari ini, dihidupkan melalui sekolah-sekolah dan aktivitas nyata yang relevan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.
Menurutnya, nilai perjuangan masa lalu mulai dari era perlawanan terhadap VOC hingga perang kemerdekaan perlu digali kembali sebagai energi moral, bukan sekadar kebanggaan historis.
Haul Akbar ini pun menjadi refleksi bahwa sejarah besar hanya akan bermakna jika diterjemahkan dalam kerja nyata dan kontribusi bagi masyarakat hari ini.
