SEMARANG – Lonjakan 2.188 kasus suspek Campak di Jawa Tengah memicu penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di tiga kabupaten. Tingginya daya tular virus Paramyxovirus membuat upaya penanganan harus dilakukan secara cepat dan menyeluruh guna memutus rantai penularan.
Merespons kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho, meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, terutama dalam memperkuat sistem deteksi dini dan memperluas edukasi imunisasi.
Secara epidemiologis, satu penderita campak dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang dalam populasi yang belum memiliki kekebalan. Kondisi ini mempercepat penyebaran, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.
“Merebaknya campak di Jawa Tengah menjadi peringatan keras bahwa sistem imunisasi anak harus diperketat,” ujar Setya Arinugroho di Semarang, Jumat (1/5/2026).
Untuk mencapai kekebalan kelompok atau Herd Immunity, dibutuhkan cakupan imunisasi minimal 95 persen. Saat ini, tiga kabupaten yang berstatus KLB menjadi fokus penanganan melalui skema Outbreak Response Immunization (ORI) guna mencegah penyebaran lebih luas.
Setya menegaskan bahwa penanganan tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan, tetapi harus menyasar akar persoalan, yakni ketimpangan cakupan imunisasi antarwilayah. Menurutnya, hal ini kerap menjadi celah masuknya virus ke kelompok masyarakat yang rentan.
“Kami mendorong Dinas Kesehatan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk memastikan ketersediaan vaksin, memperkuat deteksi dini, serta menggencarkan edukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran layanan kesehatan tingkat dasar seperti puskesmas dan posyandu dalam mendeteksi kasus sejak dini serta memetakan penyebaran penyakit secara akurat.
Selain itu, penguatan sistem rantai dingin atau Cold Chain dalam distribusi vaksin menjadi kunci agar kualitas vaksin tetap terjaga hingga ke daerah terpencil. Ketersediaan stok vaksin juga harus dipastikan merata agar tidak menghambat program imunisasi.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan kembali kesadaran masyarakat terkait pentingnya imunisasi dasar lengkap, mengingat campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, hingga diare berat yang berisiko fatal pada anak.
DPRD Jawa Tengah, lanjut Setya, akan terus melakukan pengawasan terhadap penanganan wabah ini, termasuk memastikan kesiapan anggaran, logistik medis, serta tenaga kesehatan di lapangan.
“Edukasi tidak boleh berhenti. Masyarakat harus memahami bahwa imunisasi penting untuk melindungi anak dari risiko penyakit berat,” pungkasnya.
