WONOSOBO – Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Kabupaten Wonosobo kembali menggelar kegiatan edukatif bertajuk Lawatan Sejarah dengan mengunjungi Komplek Pemakaman Candiwulan, Sabtu (2/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran sejarah di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Sebanyak 38 peserta yang terdiri dari guru sejarah, pelajar, serta pemerhati sejarah mengikuti kegiatan ini. Lawatan dirancang sebagai ruang belajar kontekstual yang menggabungkan praktik langsung dengan refleksi nilai-nilai kesejarahan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah dan tabur bunga di makam tokoh nasional, dilanjutkan dengan napak tilas sejarah, diskusi tokoh, hingga refleksi nilai kepemimpinan dan nasionalisme. Suasana khidmat menyelimuti prosesi tersebut, terutama saat peserta memberikan penghormatan kepada para tokoh yang telah berjasa.
Momentum ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, sehingga tokoh utama yang menjadi fokus adalah Raden Mas Pandji Soerachman Tjokroadisoerjo. Ia dikenal sebagai rektor pertama Universitas Indonesia pada periode 1950–1951, masa penting transisi dari Universiteit van Indonesie menuju universitas nasional.
Lahir di Wonosobo pada 30 Agustus 1894, Soerachman menempuh pendidikan teknik kimia di Delft, Belanda, dan lulus pada 1920. Selain berkiprah di dunia pendidikan, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan Menteri Keuangan. Perannya dinilai krusial dalam membangun fondasi pendidikan tinggi nasional pasca kemerdekaan. Ia wafat di Den Haag, Belanda, pada 1954.
Ketua AGSI Wonosobo, Yularti, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sarana pembelajaran yang hidup.
“Lawatan sejarah ini menjadi sarana belajar yang tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga pengalaman langsung dalam memaknai perjuangan tokoh. Ini penting untuk membangun karakter dan jati diri kebangsaan,” ujarnya.
Sementara itu, Suwondo Yudhistiro, selaku Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Wonosobo sekaligus Dewan Penasihat AGSI, mengajak generasi muda untuk meneladani nilai-nilai perjuangan tokoh bangsa.
“Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi menjadi pijakan dalam membangun masa depan. Semangat, integritas, dan pengabdian tokoh seperti Soerachman harus terus diwarisi,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, AGSI Wonosobo berharap nilai kepemimpinan, nasionalisme, serta kecintaan terhadap sejarah semakin tumbuh. Lawatan sejarah menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga hidup di ruang-ruang memori kolektif bangsa.
