BANJARNEGARA Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi digital, radio dinilai masih memiliki peran penting sebagai media informasi yang dekat dengan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Radio Academy Jawa Tengah yang digelar di Sasana Karya Praja Setda Banjarnegara, Kamis (5/3/2026).

Melalui sambutan Bupati Banjarnegara yang disampaikan oleh Pj Sekda Tursiman, S.Sos., pemerintah daerah menegaskan bahwa radio tetap menjadi media strategis yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, terutama hingga wilayah pedesaan.

“Radio bukan hanya media informasi, tetapi juga sarana edukasi, hiburan, serta ruang komunikasi publik yang inklusif bagi masyarakat,” ujar Tursiman.

Ia berharap kegiatan Radio Academy dapat memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), serta lembaga penyiaran, sehingga radio mampu terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan informasi di daerah.

Selain itu, Tursiman juga menekankan pentingnya inovasi dalam program siaran radio agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas lokal.

“Kami berharap lahir inovasi program siaran yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu mengangkat potensi lokal Banjarnegara seperti budaya, pariwisata, UMKM, hingga kearifan lokal masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KPID Jawa Tengah Nugroho Adi mengungkapkan bahwa Jawa Tengah memiliki lebih dari 370 stasiun radio, yang kemungkinan merupakan jumlah terbanyak di Indonesia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan pembinaan terhadap seluruh lembaga penyiaran.

Menurutnya, kegiatan Radio Academy menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di dunia penyiaran.

Hal senada disampaikan oleh Komisioner KPI Pusat Bidang Kelembagaan, I Made Sunarsa, yang menyebutkan bahwa jumlah radio di Indonesia mencapai sekitar 1.575 lembaga penyiaran.

Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 1.326 radio swasta, 135 LPP, 131 LPPD, dan LPPL.

“Masih banyak radio di Indonesia. Karena itu jangan sampai kita merasa radio sudah tidak relevan. Negara masih membutuhkan radio untuk menjaga integritas bangsa, nasionalisme, budaya, dan martabat bangsa,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Radio Academy juga menjadi ruang belajar bagi para praktisi penyiaran untuk memahami peluang baru dalam industri radio, termasuk peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui program siaran yang kreatif.

Utut Adianto: Radio Harus Beradaptasi dengan Zaman

Arahan penting juga disampaikan secara daring oleh Anggota Komisi I DPR RI Utut Adianto Wahyu Hidayat. Ia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada Pemkab Banjarnegara yang telah menyelenggarakan acara ini. KPI memiliki peran penting dalam menjaga agar penyiaran di Indonesia berjalan dengan baik,” ujar Utut.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan KPI, termasuk dukungan anggaran, agar pembinaan terhadap media penyiaran dapat berjalan optimal.

Menurutnya, radio harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan di tengah persaingan media digital.

“Saya berharap radio dapat direvitalisasi untuk menjawab semangat zaman dengan berkolaborasi bersama berbagai platform digital yang ada,” ungkapnya.

100 Radio Portabel Dibagikan ke Masyarakat

Kepala Dinas Kominfo Banjarnegara Sagiyo, S.IP. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Radio Academy Jawa Tengah di Banjarnegara.

Ia berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat ekosistem radio daerah dalam menghadapi perubahan zaman.

“Kami berharap kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi awal dari pengembangan dunia radio yang lebih adaptif terhadap era digital tanpa meninggalkan nilai budaya lokal,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, panitia juga membagikan 100 unit radio portabel kepada masyarakat yang bekerja di ruang publik, seperti tukang becak, tukang cukur, sopir angkot, tukang sol sepatu, pedagang, hingga pekerja sektor informal lainnya.

Radio tersebut diberikan terutama kepada masyarakat yang tidak memiliki telepon seluler, sehingga mereka tetap dapat mengakses informasi melalui siaran radio.

Kegiatan Radio Academy Jawa Tengah juga menghadirkan sejumlah narasumber praktisi radio, di antaranya Chandra Noviardi, Eddy Prastyo, dan Dendan Ronggo Astono, serta diikuti peserta dari berbagai lembaga penyiaran di wilayah Banjarnegara, Purbalingga, Kebumen, dan Banyumas.

Melalui kegiatan ini, diharapkan radio tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai media yang adaptif, inovatif, dan tetap dekat dengan masyarakat di tengah arus digitalisasi.