BANJARNEGARA – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum membersihkan diri dari dosa sekaligus menyehatkan tubuh, khususnya sistem pencernaan.

Hal tersebut disampaikan Bendahara MUI Banjarnegara, KH Nafis Athoillah, saat memberikan tausiyah dalam acara Halal Bihalal di SMAN 1 Sigaluh, Rabu (25/3/2026).

Ia mencontohkan kebiasaan Rasulullah SAW saat berbuka puasa yang sangat sederhana, yakni hanya mengonsumsi tiga butir kurma dan segelas air putih.

“Karena itu, jangan sampai kita justru ‘balas dendam’ saat berbuka. Puasa seharusnya membuat tubuh lebih sehat, bukan sebaliknya,” ungkapnya.

Menurutnya, Ramadan juga mengajarkan pengendalian diri secara menyeluruh. Rasulullah bahkan tetap beraktivitas berat saat berpuasa, seperti saat menggali parit dalam Perang Khandaq. Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk mengurangi tidur, menjaga ucapan, serta memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an dan ibadah seperti iktikaf.

Lebih lanjut, KH Nafis menjelaskan bahwa tujuan akhir Ramadan adalah menjadikan manusia kembali fitri, yakni kembali pada kesucian asalnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya momentum Idul Fitri sebagai ajang saling memaafkan. Menurutnya, setiap manusia tak luput dari kesalahan, sehingga memaafkan menjadi jalan untuk meraih keridhaan Allah.

“Ada tiga makna kemenangan, yaitu keberhasilan yang nyata, kebahagiaan besar, dan ridha Allah. Salah satunya diraih dengan saling memaafkan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut mengisahkan hikmah dari Luqman Al Hakim. Saat diminta memilih bagian terbaik dan terburuk dari tubuh kambing, Luqman memilih hal yang sama, yakni lidah dan hati.

“Lidah dan hati bisa menjadi sumber kebaikan, tapi juga bisa membawa keburukan. Maka keduanya harus benar-benar dijaga, terutama dalam memaafkan,” tegasnya.

Melalui Ramadan dan Idul Fitri, umat Islam diajak tidak hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga membersihkan hati dan menjaga lisan agar kesucian yang diraih benar-benar utuh.