BANJARNEGARA – Klampok, Kecamatan di Kabupaten Banjarnegara, menyimpan sejarah panjang yang masih terlihat hingga kini melalui bangunan-bangunan kolonialnya.
Beberapa bangunan peninggalan era kolonial di daerah ini kini tengah dikaji oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara.
Kajian yang dilakukan pada Kamis, 13 Februari 2025, mengungkap bahwa bangunan-bangunan tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah tinggi, tetapi juga arsitektur unik yang masih bertahan.
Tiga Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang menjadi perhatian TACB dalam kajian ini adalah Aula SDN 1 Klampok, Gedung BLKT Klampok, dan Polsek Klampok. Bangunan-bangunan ini diyakini memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Pabrik Gula Klampok, yang dibangun pada tahun 1918.
Jejak Sejarah yang Saling Terkait
Ketua TACB Banjarnegara, Heni Purwono, menjelaskan bahwa ketiga bangunan kolonial ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi sebagai bagian dari infrastruktur pendukung Pabrik Gula Klampok.
“Sayangnya, bangunan utama Pabrik Gula Klampok kini hanya tersisa sekitar 20 persen saja. Namun, beberapa bangunan pendukung seperti kantor BLK dan rumah dinas pabrik gula masih sangat terawat,” ujar Heni.
Ia juga mengungkap bahwa SDN 1 Klampok kemungkinan besar merupakan bekas Europeschee School Klampok, sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Eropa yang orang tuanya bekerja di Pabrik Gula. Sementara itu, Polsek Klampok diduga merupakan bekas Holland Inlandsche School, sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak pribumi.
“Dugaan ini cukup masuk akal, mengingat SD Klampok memiliki bangunan kecil dengan hanya tiga ruang kelas tetapi dilengkapi aula yang luas, menunjukkan jumlah siswa yang lebih sedikit. Sementara bangunan Polsek memiliki lebih banyak ruangan, kemungkinan menampung lebih banyak siswa,” jelasnya.
Keunikan Arsitektur yang Masih Bertahan
Anggota TACB Banjarnegara, Siti Nurlela, menyoroti keunikan arsitektur dari ketiga bangunan kolonial ini.
🔹 Aula SDN 1 Klampok memiliki rangka kayu jati kokoh tanpa tiang tengah, sesuatu yang jarang ditemukan saat ini. Dengan ukuran lebih dari 12 meter persegi, aula ini tetap berdiri megah tanpa ada pilar penyangga di tengahnya.
🔹 Gedung BLKT Klampok menampilkan desain oval, yang tidak umum ditemukan dalam bangunan kolonial di Banjarnegara.
🔹 Bangunan Polsek Klampok berbentuk huruf U, yang mencerminkan model bangunan kolonial khas Belanda untuk institusi pendidikan atau pemerintahan.
“Ketiga bangunan ini memiliki keunikan tersendiri dan layak untuk ditetapkan sebagai cagar budaya agar tetap terjaga untuk generasi mendatang,” tutur Siti.
Dukungan dari Pengguna Bangunan
Dukungan penuh terhadap upaya TACB datang dari tiga penanggung jawab gedung, yakni Dewi Yeni (Kepala SDN 1 Klampok), Asih Suciati (Kepala BLKT Klampok), dan Iptu Imam Sanyoto (Kapolsek Klampok).
Asih Suciati, Kepala BLKT Klampok, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung kajian ini dan berharap bangunan yang mereka tempati dapat segera diresmikan sebagai heritage Banjarnegara.
“Ini menjadi kebanggaan bagi kami, karena banyak pihak yang datang ke tempat ini dan ingin mengetahui sejarahnya. Kami berusaha menjaga bangunan ini dengan baik agar tetap utuh,” kata Asih.
Menjaga Warisan Sejarah untuk Masa Depan
Dengan adanya kajian ini, diharapkan ketiga bangunan kolonial tersebut dapat dilestarikan sebagai cagar budaya. Keunikan arsitektur dan nilai sejarah yang tinggi menjadi alasan kuat agar bangunan ini tetap terjaga dan dapat menjadi sumber edukasi sejarah bagi masyarakat.
Pelestarian bangunan bersejarah seperti ini bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, tetapi juga investasi bagi generasi mendatang.
Dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat proses penetapan cagar budaya ini sehingga Klampok tetap menjadi salah satu daerah dengan kekayaan sejarah yang dapat dinikmati oleh banyak orang.