BANJARNEGARA – Dataran tinggi Dieng kembali menyuguhkan pemandangan menakjubkan yang membuat siapa saja terpesona.
Di pagi hari, kawasan ini diselimuti kabut tebal yang menjadikannya tampak seperti negeri awan—hening, sejuk, dan penuh pesona. Tak heran jika wisatawan menyebutnya “surga kecil di atas awan”.
Fenomena kabut ini bukan hal baru, tetapi tetap menjadi daya tarik luar biasa, apalagi bagi mereka yang haus akan ketenangan dan keindahan alami.
Kabut mulai turun sejak dini hari dan biasanya bertahan hingga sekitar pukul 07.30 pagi, saat matahari perlahan menembus cakrawala.
Pagi-pagi inilah momen terbaik untuk menyaksikan transformasi alam Dieng: dari gelap dan dingin, menjadi terang dan memikat.
Embun Upas Pertama Tahun Ini: Dingin yang Indah

Senin pagi (28/4/2025), akun resmi @cuacadieng mencatat suhu di Desa Diengkulon mencapai 3,95° Celsius sekitar pukul 05.57 WIB.
Suhu ini cukup rendah untuk memunculkan embun upas, yaitu butiran es tipis yang terbentuk di atas daun-daun dan rerumputan.
Fenomena ini adalah pertanda awal musim dingin khas Dieng yang biasanya berlangsung hingga Agustus.
Embun es ini muncul di sekitar Komplek Candi Setyaki dan area Dharmasala, menjadi magnet baru bagi para pelancong dan fotografer yang ingin mengabadikan momen langka tersebut. Meski tipis, embun upas tetap mampu menciptakan nuansa magis yang langka di daerah tropis seperti Indonesia.
Langit Biru, Kabut Putih, dan Gunung yang Menjulang
Seorang fotografer asal Jakarta, Novem Lawalata, berhasil mengabadikan momen luar biasa di salah satu pagi berkabut di Dieng.
Dalam jepretannya, tampak gunung-gunung yang berdiri megah seolah mengawasi kabut putih di bawahnya.
Langit biru yang cerah memberi kontras yang mencolok dengan kabut, menciptakan komposisi alam yang nyaris sempurna.
Tak hanya Novem, ratusan fotografer dari berbagai daerah kerap menjadikan bukit scooter dan kawasan atas museum kailasa sebagai lokasi favorit.
Spot-spot tersebut memungkinkan wisatawan menyaksikan kabut bergerak perlahan, menyelimuti desa, ladang, dan hutan, menciptakan siluet yang sangat estetik.
Para fotografer menyukai waktu-waktu ini karena pencahayaan alami yang lembut menciptakan nuansa foto yang dramatis dan berkarakter. Setiap momen menjadi peluang untuk menangkap sisi terbaik dari alam.
Dengan suhu yang bisa turun hingga di bawah 5°C, pengunjung disarankan membawa perlengkapan hangat seperti jaket, penutup kepala, dan sarung tangan.
Tapi percayalah, dinginnya udara bukanlah penghalang, justru menjadi bagian dari pengalaman spiritual dan menyatu dengan alam.
Menikmati pagi berkabut di Dieng adalah lebih dari sekadar liburan. Ini tentang meresapi keheningan, menikmati ciptaan Tuhan, dan mengisi ulang energi batin yang mungkin telah lelah oleh hiruk-pikuk kota.
Akhir Pekan? Dieng Bisa Jadi Jawabannya
Bagi Anda yang mencari ketenangan sekaligus keindahan, Dieng adalah pilihan sempurna untuk mengisi akhir pekan.
Perjalanan menuju Dieng pun kini lebih mudah dengan akses jalan yang semakin baik dari arah Banjarnegara maupun Wonosobo.
Keindahan yang terekam dalam embun es, kabut pagi, dan siluet pegunungan menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak keajaiban yang belum tentu dimiliki tempat lain di dunia.
Dieng bukan hanya objek wisata—ia adalah tempat yang memberi ruang untuk merenung, menyembuhkan, dan mengagumi kebesaran Sang Pencipta.
